Talenta 56 | Inspirasi Tanpa Batas

Tampilkan postingan dengan label Tradisi Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

Adu tanduk Warisan Ki Ronggo


Ribuan pasang mata terpaku ke sudut arena. Pintu anyaman bambu terkuak. Kraaak. Seekor sapi jantan gemuk, putih dengan beringasnya masuk ke arena. Bagai atlet yang melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum hendak bertanding, sapi berlari-lari kecil mengitari lapangan. Maka, debu pun mengepul. Sementara itu, dari sudut yang lain mucul seekor sapi hitam, sama besar dan tegap, merunduk-runduk memasuki lapangan.
Tiga orang lelaki memegangi leher sapi yang beringas itu dengan susah payah. Beberapa orang bersulempang hijau melemparkan tali ke leher sapi putih yang tampak jinak tadi Hupp ... sapi pun digiring ke tengah lapangan. Sementara itu, sapi hitam tetap menampakkan nyalang matanya, dan terus dipegangi erat oleh ketiga lelaki yang berselempang merah. "Babak berikutnya.... si pelor melawan si rudal," begitu teriak seorang pria bertubuh kekar dengan mata sipit di anjungan, lewat corong pengeras. Dan, "ngok . . . ngok . . . ngok . . . ngok," tambahnya lagi, menirukan suara sapi. Sesudah kedua kepala sapi dipertemukan, priiiit ... pluit pun melengking. Sapi dilepaskan, baku tumbuk, baku hunjam tanduk. Sorak sorai penonton meledak. Arena ingar-bingar. Ya, itulah adu sapi yang selalu ada di Bondowoso -- Jawa Timur -- setiap tahun. * * *
Foto: Google
Matahari ketika itu baru saja tersembul dari balik puncak Gunung Ijen, di ufuk timur, medio Agustus, menjelang peringatan Hari Proklamasi. Tetapi kesibukan di sekeliling arena sudah terdengar sejak ayam mulai berkokok. Suara orang lalu lalang berbaur dengan lenguh sapi. Mereka yang ikut pesta adu sapi ini memang bermalam bersama jago-jagonya. Maklum, penyelenggara, dan memang sudah demikianlah tradisinya, hanya menyediakan "losmen" bagi sapi-sapi yang siap bertanding. Gratis. Penginapan sapi itu berupa gubuk-gubuk dari ilalang, terletak di sekeliling arena. Inilah pesta rakyat yang senantiasa dinanti-nanti.
Tahun ini hanya diselenggarakan di Desa Kademangan, dalam Kota Bondowoso. Dahulu, pesta berpindah-pindah dari desa satu ke desa lainnya, sebelum dibangun stadion permanen, bersebelahan dengan pasar sapi di Kademangan itu. Namanya saja yang permanen, sementara tribun dan pagar penonton tetap terbuat dari bambu. Kini istilah adu sapi diperhalus jadi "Kontes Sapi", diselenggarakan oleh Pemda Kabupaten Bondowoso. Kali ini adu sapi diselenggarakan pada akhir Juni lalu, sampai Oktober mendatang. Setiap pekan diadakan dua kali: Sabtu dan Minggu. Pihak Pemda menyerahkan pelaksanaannya kepada seorang promotor. Memang mirip penyelenggaraan sebuah pertandingan tinju. * *
Pertarungan kedua ekor sapi rupanya cukup seru. "Ya . .. ya . . . ini dia si rudal, hook-nya berbahaya. Hayo gasak terus sampai ka-o," kata Hendra alias Poo Tiong, pembawa acara, sekaligus bertindak selaku juri tunggal dan dialah promotor itu. Ia telah berpengalaman lebih dari 10 tahun memimpin baku hantam antar sapi ini. Di anjungan itu ia selalu menyelipkan humor di antara komentarnya. Dalam acara yang penuh ketegangan, hal-hal yang mencairkan suasana tampaknya diperlukan. Kadang-kadang lelucon Hendra keterlaluan -- bagi yang terkena. "Wah, wah, wah . . . sapi kayak begini kok diadu di sini, enakan disembelih saja, lantas dimakan dagingnya," ini contoh komentar Hendra, bila sapi-sapi yang beradu tampak kurang terlatih.
Menyaksikan sapi-sapi bertarung memang mendatangkan semacam keasyikan tersendiri. Hewan yang selama ini kita makan dagingnya, kita suruh menarik bajak atau gerobak, ternyata mempunyai taktik bertarung bak seorang petinju profesional. Tak jarang, di arena yang seluas separo lapangan sepak bola, kedua sapi hanya menempelkan tanduk masing-masing, berlama-lama. Atau jago-jago bertanduk itu cuma saling mencium ekor. Ada pula misalnya, seekor sapi lalu menunggangi lawannya, mirip adegan sapi kawin. Kalau sudah begini, lapangan jadi riuh rendah penuh suit-suit dan tawa penonton.
Tetapi kalau terus-menerus sapi-sapi yang muncul ke gelanggang ternyata hanya menyuguhkan adegan "damai", penonton pun bisa protes. Serempak mereka akan berteriak histeris. Siapa lagi sasaran mereka bila bukan panitia, ya, Hendra dan kawan-kawan di anjungan itulah. "Ayo pekkeluar se-begus (Ayo keluarkan sapi yang bagus)," pinta penonton. Sapi-sapi itu, ah, tentu saja mereka mendengar protes penonton. Tapi, sayang, tak memahami maksudnya. Untunglah, dalam pertandingan antara si Rudal dan si Pelor, pertengahan Agustus lalu, penonton merasa puas.
Kedua sapi sama-sama tangguh. "Tahun lalu keduanya sama-sama meraih kemenangan," tutur Hendra kepada TEMPO. Sekitar 3.000 penonton hari itu matanya tertuju pada kedua sapi favorit, yang telah membuktikan ketangguhannya tahun lalu itu. Suara corong tak lagi main-main, seperti sebelumnya. Pada klimaks pertandingan antara kedua jago favorit, juri harus lebih serius. "Kalau tidak, penonton akan marah. Bisa barabe nantinya," ujar Hendra, pengarah acara dan sekaligus juri itu.
Demikianlah pengalaman juri sapi itu di tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, penjagaan polisi kini semakin ketat. Ada larangan membawa senjata tajam. Bahkan para pengunjung yang dicurigai langsung diperiksa. Banyak pula polisi yang tak berseragam, menyamar sebagai pengunjung umum berpakaian tradisional Madura. Dengan baju dan celana pendek komprang berwarna hitam, kaus bergaris-garis merah putih, dan odeng, ikat kepala khas pulau garam ala Pak Sakerah.
Tahun ini, sampai awal September, alhamdulillah, tak ada penonton yang kedapatan membawa senjata tajam. Dan yang penting pula, dalam lima tahun terakhir, tak ada yang terlibat carok. Biasanya, mereka yang beringas dan lupa diri itu, yang selalu kalah totoan, judi. Pelor akhirnya dinyatakan menang. Rudal, meski nama ini gagah, mengambil nama jenis senjata mutakhir, "peluru kendali", harus kalah. "Nama itu saya tiru dari siaran TVRI," ujar pemilik sapi yang kalah itu.
Wajahnya tampak sedih, sementara seler (orang-orang berselempang) alias suporter si pelor berguling-guling di arena bergalau dengan debu dan (mungkin) kotoran sapi, merayakan kemenangan. Para seler ini dielu-elukan panitia. Tiba-tiba terdengar suara gamelan membawakan gending-gending nada sukaria. Lho, dari mana asal suara gendang dan gamelan? Wah, cukup sukar juga dilihat. Mata penonton menyapu ke sana kemari, mencari. Ketika seorang tandak (penari wanita) mengendap-endap keluar, ah, ternyata rombongan tetabuhan berada di kolong bawah anjungan. Yang disebut rombongan gamelan ini membawa cymbal, kecrek, dan gong besar. Mereka itu dikontrak panitia selama diselenggarakannya adu sapi.
Tandak mengelu-elukan yang menang, membawakan kidung (lagu) kemenangan. Sementara itu, Pelor diberi selempang bermotif benang keemasan. Pemilik sapi yang menang tak bisa membendung kegembiraannya: entah berapa ribu rupiah (bukan dolar, tentu) yang dimasukkannya ke celah kutang tandak yang terus saja menari dan menembang. Seler ikut menari-nari di tengah lapangan, sambil sesekali membanting-banting kopiahnya ke arena. Menang taruhan, siapa yang tak senang. Edan.
Bagi Kepala Daerah Bondowoso, pertunjukan adu sapi adalah salah satu kegiatan untuk menaikkan pendapatan desa. "Retribusi parkir dan sewa tanah aduan kami serahkan perangkat desa. Sehingga uangnya untuk kepentingan desa itu sendiri," kata Bupati. Itu dulu, ketika lokasi pertunjukan masih berpindah-pindah dari desa ke desa. Setelah ditetapkan arena baku-tanduk diselenggarakan di dalam Kota Bondowoso, tahun lalu pihak Kabupaten mendapat pemasukan Rp 40 juta. Berapa tahun ini, pihak Pemda belum mengungkapkannya. Pihak promosi, Hendra itu, tahun lalu mengaku menginvestasikan modal sekitar Rp 10 juta. "Saya tak pernah rugi.
Karena segalanya sudah saya perhitungkan," kata lelaki sipit yang sudah turun-temurun gemar adu sapi itu. Tapi berapa besar untungnya. para penonton dan sapi-sapi mungkin tak peduli. Hendra sendiri, yang di Jember (tempat tinggalnya dikenal sebagai kontraktor, memang cukup kaya. tinggal di kawasan elite. Tampaknya ia memang berbakat menyelenggarakan adu hewan. Selain sapi ia pun penggemar burung, dan dari kegemarannya yang lain ini pun Hendra mencetak uang pula Sebelum musim adu sapi, biasanya ia mengadakan lomba burung. * * *
Ada sepuluh aturan dalam adu sapi. Kini aturan itu ditulis, diperbanyak dengan fotocopy, kemudian dibagi-bagikan kepada para peserta. Antara lain. aturan itu memastikan perlunya gendhing (mencari lawan) di tengah gelanggang. "Ini terutama buat peserta yang belum menemukan lawan. Di arena mereka bisa mencari lawan yang cocok," ujar Hendra, ayah empat anak itu. Baku-tanduk antara dua sapi ditetapkan satu jam setiap ronde. Dan seekor sapi hanya diperbolehkan bertanding sekali dalam seminggu.
Jika minggu ini sapi menang, maka minggu berikutnya pemiliknya boleh mencarikan lawan lagi. Kekalahan seekor sapi diukur bukan dari banyaknya darah mengucur atau tanduk yang patah. Melainkan, sapi yang lari sembari nungging alias ekornya mengibas-ngibas ke atas, itulah yang dinyatakan kalah. Ngossss ... ngosssss . . ngrossss, babak berikutnya, si Mawar melawan si Tambur.
Kedua sapi bertingkah sebelum aba-aba juri dimulai. Para seler, biarpun sudah terbiasa dengan sapi-sapi beringas, kali ini tampak lebih waspada. Ada pengaman buat para seler, tangga-tangga bambu yang menempel di sekeliling pagar. Kalau sapi menyeruduk, seler bisa mengamankan diri, lari ke tangga. Aba-aba diberikan, kedua sapi mulai baku hantam. Mawar dan Tambur ternyata tergolong gendhing (= seimbang rupanya kata gendhing yang punya banyak arti). Saling seruduk, saling hunjam. Tes-tes-tes-testestes . . . darah segar mengucur dari kening Tambur yang berkulit putih itu. Karenanya, warna merah segar terlihat dengan jelas. Matanya semakin nyalang.
Mawar semakin waspada. Para seler maju mundur mengikuti ke arah mana saja kedua sapi bergerak. Iramanya bisa pelan, bisa cepat. Sejurus kemudian, kedua sapi tiba-tiba bergerak dengan cepat. Debu beterbangan. Arena bagai diselimuti kabut pagi, sapi dan para seler bagaikan bayangan yang bergerak-gerak. Dan persis satu jam, Tambur keok, lari terbirit-birit. Para seler naik ke tangga penyelamatan. Tang tung tang tung, ning nong ning dong .... Suara gamelan kembali meriah, menyambut kemenangan Mawar.
Corong kembali ramai. "Si Mawar saya beri nama Ellyas Pical," ujar Hendra Jaya, yang sekaligus mengumumkan Mawar sebagai juara umum. Sementara itu, di sudut lain, kelompok berselempang merah berwajah muram. Mereka mewakili sebuah kesedihan: kekalahan yang baru ditelannya. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka mengacung-acungkan tangannya yang berlumuran darah. Ada imbauan dari corong: "Yang tangannya luka harap ke pos kesehatan." Laki-laki kekar dengan pakaian Pak Sakerah itu menuju ke pos. Ia rupanya tergores tanduk Tambur, tak sempat menghindar ketika sapi yang dijagoinya lari menghindari lawannya. Untung, cuma tangan yang kena. * * *
Adu sapi di Bondowoso melibat banyak peternak dan pedagang sapi. Bagi pemenang, tak saja mereka berhak mengantungi piagam panitia, melainkan pula, harga sapi-sapi mereka bakal lebih mahal. Sebaliknya yang kalah, pasarannya menurun. Arena adu sapi memang menjadi semacam bursa, sejak dulu. Si Mawar, jago tahun ini yang berbobot lebih dari 4 kuintal, langsung ada yang menawar: ditukar dengan sebuah Colt Station L 300. Si empunya menolak. "Biar sampai mati, dia akan tetap saya pelihara, ini maskot saya," ujar Sunyoto, penggemar adu sapi turun-temurun dari Desa Sekarputih, Bondowoso.
"Saya hobi adu sapi, bukan pedagang sapi yang mengharap harga sapi naik," kata pengusaha tembakau yang memiliki beberapa sapi aduan ini. Sejak mendiang ayahnya, Liu Lin namanya, keluarga ini memelihara sapi. Hewan-hewan itu tidak dibiarkan agar merumput sebagaimana laiknya. Melainkan ditempatkan di sebuah kamar khusus, berlantai bambu sedemikian rupa hingga kotoran sapi mudah terbuang melalui celah-celah yang sengaja dibuat. Sementara itu, si sapi menganggur di kamar, sampai tiba masa pertandingan. Seekor sapi favorit seperti si Mawar boleh menerima perlakuan khusus -- laiknya seorang juara. Lihat saja: rumput buat Mawar disuguhkan dalam piring istimewa berbentuk bagai mangkuk. Air minum selalu siap di sebelahnya.
Kamar sapi itu tidak terkesan sebagai kandang sama sekali. Ruangan bekas spen yang letaknya di belakang rumah gadang Sunyoto itu, mirip kamar biasa artinya kamar buat manusia. "Beginilah kalau orang sudah gila sapi piaraan," kata ayah empat anak itu tersenyum-senyum. Cuma, bau kamar Mawar memang seketika mengabarkan siapa penghuni di sini. Seorang pria setengah baya berada di kamar si Mawar.
Ia duduk di sebuah balai-balai sembari melinting rokok dari tembakau yang tersedia satu tas plastik di depannya. Dialah pawang si Mawar. Kamarnya di sebelah ruangan si sapi, dan ukurannya lebih kecil daripada kamar si Mawar. Di sini agaknya sapi lebih dihargai. Atau, ukuran kamar semata dihitung berbanding lurus dengan besar tubuh penghuninya? Wah. Di ruangan bertembok itu tak jarang penuh berlepotan kotoran sapi, berwarna hijau, dengan bau yang khas.
Meski selalu dibuat rapi, senantiasa si Mawar suka acak-acakan. Maklum, ia tetap sapi meski juara. Dan semuanya itu masih ditambah dengan kunjungan dokter hewan untuk menjaga kesehatan Mawar. "Sedikitnya setiap bulan saya mengeluarkan belanja Rp 100 ribu untuk si Mawar," kata Sunyoto yang sedang tergila-gila pada maskotnya itu. Entah, pawang yang tidur di kamar sebelah, berapa gajinya. "Sampai mati, Mawar akan saya pelihara," tambahnya. Pemilik sapi aduan yang memperlakukan jagonya seperti Sunyoto banyak. Jangan salah tangkap. Mereka bukannya memuja sapi sebagaimana orang India melakukannya. Namun, lantaran hobi yang berlebih-lebihan, dan bahkan sudah turun-temurun, hewan itu lalu dimanjakan. Bagi pemilik yang cintanya terhadap sapi hanya sebatas uang, sapi-sapi juara bisa seharga sebuah mobll atau rumah. * * *
Sesungguhnya sapi aduan adalah jenis sapi biasa, seperti brahman. Atau, hasil silang sapi Australia, yang biasa dibeli oleh penggemar dari Sumba. Jenis lain yang diadu adalah sapi Bali yang banyak terdapat di pasaran. Biasanya sapi aduan dipelihara sejak kecil (pedet). Sejak usia tiga atau empat bulan hewan berkaki empat yang lagi lucu-lucunya itu dilatih. Setiap hari anak sapi itu dibawa naik turun bukit. "Itu melatih ketahanan tubuhnya," kata Asmari, pemilik sapi adu dari Desa Wonosari.
 Menjelang dewasa, latihan ditingkatkan. Tanduk mulai diperuncing. Jamu-jamu khusus, yang biasa diminum orang, juga dicekokkan kepada sapi. "Dua bulan sebelum pertandingan, setiap hari dua butir telur saya berikan," tutur Asmari yang punya empat ekor sapi adu jenis brahman. Bila ada perbedaan dengan para juara baku hantam di kalangan manusia, sapi-sapi itu tak bisa membeli dan mengupas telur sendiri. Biaya pemeliharaan seekor sapi aduan, dengan begitu memang bisa begitu mahal. Apalagi dalam beberapa hari menjelang masuk arena.
Telur dan ramu-ramuan yang diberikan bisa berlipat ganda. Bagi penggemar yang tak mampu, barang-barang rumah tangga bisa dilego untuk menutup biaya hidup sapi. Kadang-kadang terkesan, para penggemar adu sapi itu lebih mementingkan sapinya daripada anak. Inilah tradisi yang sudah mengakar, yang bisa dianggap aneh oleh yang tak memahaminya. Bukan cerita baru, demi kemenangan sapi miliknya, mereka mendatangi dukun atau pergi ke makam-makam keramat. Bahkan seorang pemilik sapi dari Situbondo, mengaku telah bersilaturahmi mengunjungi K.H. As'ad Syamsul Arifin di pondok Sukorejo, untuk mendapatkan restu.
Di Bondowoso, makam Ki Ronggo-lah yang ramai dikunjungi para penggemar sapi aduan. Ada yang sampai bermalam di sana, menunggu wangsit. Yang bermoral kurang kuat, lalu bermain kasar: menggunakan guna-guna untuk melumpuhkan sapi lain. Karena itu, penjagaan sapi-sapi tangguh menjelang pertandingan, dilakukan secara ekstraketat. Seekor sapi bisa dijaga 5 sampai-10 orang lelaki. Jangan coba-coba mendekat, bila Anda tak mereka kenal. Kecurigaan gampang timbul. Dan bila demikian, percekcokan mudah tersulut. Dulu, carok sering terjadi menjelang pertandingan. Sebab, sering terjadi, sapi-sapi yang tatkala dilatih tangguh tetapi ketika di arena hanya diam saja, hingga sapi lawan bisa dengan mudah melumpuhkannya. Sapi-sapi yang pasif ini dipercayai telah terkena guna-guna. Peserta adu sapi, selain membawa seler, sekaligus ia juga membawa dukun untuk menghindarkan kecelakaan serupa itu. * * *
Hingga menjelang pertarungan, ada saja cara guna menambah keberingasan dan semangat tempur sapi. Minuman keras acap kali diberikan kepada sapi beberapa menit sebelum turun gelanggang. Rupanya, sapi teler semangat tempurnya diyakini lebih optimal. Bukan bahan minuman keras, disediakan terung merat (ini jenis terung khusus yang membuat sapi mabuk). Juga madu dan jamu-jamu yang ramuannya dirahasiakan. Satu lagi, para pemilik juga berbekal sambal. Ya, sambal dapur, bukan bagian dari bekal nasi, tapi ramuan pedas itu untuk dioleskan ke sekujur pantat dan, ini memang benar, kemaluan sapi.
Kadang-kadang juga dibubuhkan ke telinga dan mata yang hendak diadu. Bayangkan saja betapa panasnya. Pantas jika sebelum bertanding sapi-sapi bertingkah seperti kena setrum. Dan ini pula sebabnya, bila kemudian adu sapi yang tak menanduk lawannya, melainkan menungganginya dari belakang. Sadistis? "Tidak, kerapan sapi jauh lebih sadistis. Sapi-sapi kerapan pantatnya ditusuk-tusuk paku sampai lecet supaya lari lebih kencang," kata Sunyoto, membandingkan adu sapi dengan kerapan sapi di Madura. Sesuai dengan perkembangan, promotor adu sapi kini pun lebih menggarap manajemen. Hendra itu umpamanya, selain juga menghimpunkan modal dari rekan-rekannya, ia pun punya perhitungan soal untung-rugi.
Ini bila dibandingkan dengan Swan Bing, promotor adu sapi angkatan lama yang sudah pensiun. Penggemar sapi ini, konon, tak pernah membuat kalkulasi pembiayaan. Karena itu, ia pun tak pernah membuat studi kelayakan seperti yang dilakukan oleh Hendra. "Setiap pengeluaran saya perhitungkan," katanya. Ia mengaku tak pernah rugi. Adalah berkat dukungannya pula adu sapi di Bondowoso tak sepi dari sponsor -- suatu hal yang dulu tak terpikirkan oleh Swan Bing.
Tahun lalu, misalnya, rokok Gudang Garam Kediri menjadi sponsor utama. Dan memang, arena adu sapi, sejak dulu jadi salah satu tempat perputaran uang. Tahun ini tak kurang dari 300 pedagang dari berbagai tempat tumpleg bleg ke arena adu sapi. Mulai pedagang ikan basah dari kota pantai Besuki, sampai para penjaja mainan anak-anak, beberapa hari sebelum adu sapi dua hari itu diselenggarakan, sudah berkumpul di sekitar gelanggang. Dan, jangan lupa, bila adu sapi ramai sejak dulu, perputaran uang secara klasik memang ambil bagian judi.
Dekat dengan judi, bisa ditebak, adalah munculnya wanita penjaja seks. Berlindung di keremangan warung-warung yang berderet di sana, mereka membuka transaksi sendiri. Konon, para wanita itu datang dari berbagai kompleks lokalisasi di berbagai kota. Di warung-warung makanan itulah transaksi seks berlangsung. "Seorang yang menang judi, sekadar merayu pelacur saja memberi uang," ujar seorang pemilik warung yang ketiban komisi. Dia bukan germo, tapi mengaku sebagai penampung saja. Memang, di tiap akhir pertandingan, setelah pemenang diumumkan, pemandangan seperti ini tak aneh lagi: sejumlah pelacur merengek-rengek merayu mereka yang sapinya menang. Atau, mereka yang menang taruhan. Dan mungkin ini sudah menjadi rumus dunia, uang yang diperoleh dengan mudah, perginya pun gampang.
Para petaruh itu dengan hati ringan menghabiskan uang kemenangan judi seperti tanpa pikir. Mereka minum-minum sepanjang malam, mabuk-mabukan bersama para penjaja seks -- yang sudah tentu malam itu menaikkan tarif. Kencan dilaksanakan di tenda-tenda warung di sekeliling arena. Para pedagang makanan tak kurang luwesnya merayu penonton. "Mereka yang menang biasanya tak sayang mengeluarkan uang," kata seorang penjual buah-buahan. Sekilo buah jeruk yang di kota umumnya Rp 1.000, di sini bisa dua kali lipat. Ada yang mencoba menduga, sirkulasi uang di setiap akhir periode tak kurang dari Rp 100 juta.
Tapi ini bukan Porkas, yang bisa dihitung dari kupon yang laku. Namun, judi tanpa catatan administrasi, yang tentu saja sulit dihitung berapa omsetnya. Uang masuk ke panitia itu sendiri cukup besar. Harga karcis masuk Rp 3.000 per orang, sementara daya tampung arena sekitar 3.000 orang, dan boleh dikata penuh selalu. Bagi yang bertanding, uang pendaftaran Rp 1.000 per ekor sapi. Pada setiap pertunjukan bisa dipertarungkan kira-kira 50 pasang sapi. Pada malam hari, arena adu sapi berubah menjadi pasar malam. Saat inilah kesempatan, terutama bagi yang menang taruhan, untuk berfoya-foya. "Karena dapatnya haram harus ke haram," ujar Marba'i yang sapinya menang. "Jangan sampai uang panas ini masuk ke rumah tangga saya," kata ayah lima anak ini.
Di malam medio Agustus lalu itu, lelaki asal Asembagus itu tampak dikerumuni wanita-wanita bergincu, di dalam warung remang-remang. "Dulu mereka ini memakai jarit, kini tampaknya sudah modern. Kabbih pakai rok," kata Marba'i, 50-an. Kabbih artinya semua, dan "dulu" maksudnya ketika ia masih muda, 30-an tahun yang lalu. Di sudut lain malam itu tampak laki-bini rebahan di dekat sapi. Mereka berdua tampak santai-santai berdekatan dengan rumput dan kotoran sapi, tak peduli pada bau yang tak sedap. Yang lelaki ternyata tidur, mungkin kecapekan.
Dunia sapi dan dunia manusia bertemu di sini. Di lingkungan yang kumuh itu pula tampak seorang lelaki tua menghitung-hitung sisa uangnya. Menang, Pak? "Wah, wah, wah . . . kali ini sengkok sial. Kalah," katanya dengan nada suara lantang tapi serak. Setua ini, si embah tadi mengaku tidak pernah absen menonton adu sapi. Bukan semuanya sapi yang saling menanduk yang membuatnya selalu hadir. Tapi, ya, itu tadi, judinya. "Untuk apa datang ke arena adu sapi kalau bukan untuk taruhan," katanya. "Kalau cuma adu sapi, di desa sudah sering ada, tapi tanpa taruhan," sahut seorang lelaki lain, yang berada di dekat situ. Dan memang itulah, judi, yang menjadi daya tarik utama tontonan ini. Seorang yang telah lama terlibat dengan judi aduan sapi mengatakan, lebih dari 90%, katanya, penonton datang untuk pasang taruhan.
Di pintu masuk boleh ada tertulis larangan berjudi. Polisi boleh berkeliaran -- baik berseragam maupun yang menyamar. Toh, taruhan berlangsung secara terang-terangan. Konon, ada pihak yang mendapat komisi dari uang haram itu. "Setiap taruhan besar atau kecil terkena semacam retribusi sebesar 10%," ujar seorang sumber di arena adu sapi. "Asor . . . asor . . . apet . . . apet . . . ," begitu suara riuh rendah penonton.
Istilah ini khas dalam adu sapi. Maksudnya, yang menjagoi sapi-sapi favorit harus membayar dua kali lipat pada lawan taruhannya bila kalah. Sebaliknya, bila pemegang sapi favorit menang, ia hanya berhak mendapatkan pembayaran separuh transaksi. Sedangkan untuk sapi-sapi yang sama ampuh, para penjudi menawarkan transaksi paddhe alias sama. Ingar-bingar itu bagaikan suara kawanan lebah. Itulah suara mereka yang mencari lawan taruhan, ketika sapi-sapi mulai masuk ke tengah arena. Beberapa penjudi kawakan, umumnya WNI Cina, tampak bertindak sebagai bandar.
Membawa puluhan juta rupiah, dan beberapa orangnya -- mungkin tukang pukul -- mereka seperti mengail ikan di gelanggang ini, dan selalu berhasil. Konon, bandar-bandar ini tak pernah mengeluh karena kalah. Penjudi-penjudi kelas teri, boleh dikata mereka cuma seperti membakar uangnya sendiri. Kalah melulu. Mereka agaknya kalah pengalaman. Kalau suasana perjudian sudah panas, penjudi-penjudi kelas teri tak segan-segan menjual barang apa saja yang kebetulan mereka bawa.
Di sana, sebagaimana biasa, sudah siap pembeli-pembeli yang tampak pada mafhum: penjudi-penjudi kalap akan menjual barangnya secara murah. Misalnya sebuah arloji yang di toko berharga Rp 50 ribu, di sini bisa berpindah tangan hanya dengan Rp 10 ribu. Dan celakanya, uang arloji itu pun dalam beberapa menit akan amblas. Siapa, sih, yang jadi kaya karena judi, kata orang-orang tua. Pasaran judi kelas kakap berkisar antara Rp 10 ribu dan Rp 100 ribu. "Tapi ada pula yang bertaruh sampai Rp 1 juta sekali pertandingan," kata seorang penonton. Itu yang kelas tinggi. Yang ukuran teri, taruhan berkisar antara Rp 500 dan Rp 10 ribu.
Dalam dua dasawarsa ini penyelenggaraan adu sapi selalu diawali pro dan kontra. Di forum DPRD tingkat II Bondowoso, kubu Fraksi PPP selalu menentang adu sapi. Sebaliknya, fraksi-fraksi ABRI dan Golkar mendukung. Atas dasar itu kemudian Bupati Bondowoso, Mochammad Rivai, mengizinkan adu sapi. Keuntungan adu sapi, menurut Rivai, selain menggalakkan pariwisata, juga mendorong masuknya nilai tambah kas daerah.
"Kami memungut pajak adu sapi 30%," kata bupati yang bekas Dandim Situbondo itu "Dari situlah kami membangun gedung PMI, stadion adu sapi, dan lain-lain," tambahnya. Bagaimana dengan judi? "Ah, sedapat mungkin akan dihilangkan, sebab adu sapi itu adalah warisan leluhur yang harus dipelihara dari permainan haram itu," katanya. Entahlah, bagaimana niat luhur ini bisa dilaksanakan, bila ternyata justru judinya itulah yang membuat adu sapi tetap hidup. Dan kata Karnadi, Ketua DPRD. "Lha wong sekarang ini apa, sih, yang tak ditotoi orang.
Kendaraan lewat saja nomor platnya dijadikan judi buntut." Ada masanya adu sapi menghilang. Yakni ketika Jacky Mardono (kini Kapolda Kalimantan Timur) menjadi Kepala Kepolisian Wilayah 103 Besuki di Bondowoso. Waktu itu sebendrnya bupati, Kolonel Suwardhi, berkeras agar adu sapi diizinkan. Tapi Jacky tetap tak setuju. Begitu Jacky Mardono dipindah ke Polda Jawa Timur, berkedudukan di Surabaya, adu sapi diselenggarakan kembali. Alasan Jacky sangat bisa dimengerti.
Sebab, setiap diselenggarakan adu sapi, angka kriminalitas di wilayahnya makin meningkat. Terutama pencurian dan perampokan, di kabupaten-kabupaten Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember, dan Lumajan. Memang, tatkala Jacky menjadi Kapolwil itu, angka kriminalitas, terutama pencurian sapi, tinggi. Bila kini menurun, meski adu sapi dihidupkan kembali konon, akibat apa yang dulu disebut petrus penembakan atau pembunuhan misterius. Yang tampaknya tak terhapuskan, pencurian kecil-kecilan, menjelang, sedang, dan setelah adu sapi berlangsung. Mereka yang kalah bertaruh, dan lemah "kode etik"-nya, nekat mencuri.
"Kalau sudah musim adu sapi seperti ini, di siang bolong pun rumah penduduk bisa kebobolan," kata seorang penduduk Desa Kembang, yang mengaku kurang suka pada tontonan ini. "Bagaikan bergilir, malam ini di tempat ini, malam berikutnya rumah di sampingnya kecurian." Tapi yang kecil-kecilan itu untungnya cuma terbatas di kawasan tempat adu sapi diselenggarakan. Tahun lalu, misalnya, menurut Kiai Isma'il, pemimpin pesantren di Desa Kembang, pencurian ayam dan cucian pakaian laksana arisan. Bergilir. "Saya sendiri sempat kehilangan beberapa ekor ayam," tutur Kiai. Waktu itu letak arena adu sapi hanya beberapa ratus meter dari pesantren. Tampaknya, membuat arena tetap mulai tahun ini, ada juga sedikit manfaatnya. * * *
Bila tontonan perkelahian antarsapi biasanya diadakan dari Juni hingga Oktober, saat itulah musim kemarau berlangsung. Yakni ketika para petani baru panen padi dan tembakau. Selain agar tontonan tak terganggu hujan, itulah musim banyak orang pegang uang. Dan bila lebih banyak uang tersedot ke arena adu sapi, dengar saja keluhan seorang pedagang mebel ini, "Di saat musim adu sapi, tak satu unit pun dagangan saya laku. Langganan pada lari ke arena adu sapi." Orang ini bernama Ja'far, seorang pengusaha mebel di Bondowoso.
Beberapa pengusaha rekan Ja'far, di musim ini, banyak beralih ke bidang lain, misalnya menjadi makelar. "Itu lebih baik ketimbang hanya menunggu dagangan yang ada," ujar seorang pedagang kelontong, rekan Ja'far. Yang barangkali omsetnya naik di musim ini adalah perusahaan jawatan (perjan) pegadaian. Menjelang musim adu sapi, perjan di Bondowoso dan Jember, misalnya, mengalami kenaikan omset sampai 30%. Agaknya perawatan intensif sapi memerlukan dana yang lumayan -- umpamanya, itu tadi, jamu sapi mesti ditingkatkan. Hingga pemilik sapi perlu melego segala barang yang ada untuk menutup biaya perawatan itu.
Toh, ada harapan: kelak harga sapi akan naik kalau menang. Senasib dengan pegadaian adalah kios-kios emas di pasar. Di musim ini kesibukan kios meningkat. "Tapi penjualnya kebanyakan lelaki, padahal barang yang dijual perhiasan wanita," tutur seorang pedagang emas di pasar. Juga tak kalah sibuk adalah kantor urusan agama (KUA). Pertengkaran rumah tangga sering terjadi di musim ini. Seorang penjudi adu sapi lekas kalap. Kalau sudah begini, semua isi rumah dilego. "Masih untung suami saya tak mencuri atau merampok. Tapi menghadapi suami yang gila adu sapi seperti ini, lebih baik bercerai," kata ibu empat anak asal Kalisat, Jember. * * *
Adu sapi tampaknya tak bisa dilepaskan dengan cikal-bakal nama Kota Bondowoso - Bondo (= modal) dan woso (= waisya alias sapi). Kota ini konon didirikan oleh seorang kiai keturunan Madura, bernama Ki Ronggo. Syahdan, di awal abad ke-18 Ki Ronggo mendarat di pesisir Besuki (kini masuk Kabupaten Situbondo, di pantai utara hampir ujung timur), diikuti sejumlah santrinya. Dari sana Ronggo melintasi bukit dan ngarai. Sambil membabat hutan, ia melalui lembah-lembah yang sangat curam, yang kini disebut Gunug Arak-arak. Ki Ronggo mengembara hanya bermodalkan sapi jantan. Jagung dan padi yang dibawanya ditaburkan sepanjang jalan.
"Konon, lahan-lahan yang kini subur itulah yang dulu dilewati safari Ki Ronggo," kata Bupati Rivai. Alkisah pun berlanjut. Sesampai di Bondowoso, Ki Ronggo mengumpulkan pengikutnya. Di sebuah tanah lapang yang becek, ia menyuruh santri-santrinya mengeraskan tanah dengan sapi-sapi jantan kepunyaan Kiai. Sambil bersiulan gembira, para santri melaksanakan perintah sambil menghibur diri dengan mengadu sapi. Lahan itu kini jadi alun-alun Kota Bondowoso. Dan adu sapi men jelma jadi tradisi, menjadi tontonan yang mengasyikkan bagi rakyat.
Tak lagi sekadar selingan tatkala para santri bekerja mengeraskan tanah. Inilah cerita yang masih hidup, yang mengisahkan asal mula adu sapi. * * * Bondowoso yang 70% tanahnya terdiri dari pegunungan dan bukit merupakan kota paling kuno setidaknya di kawasan ujung timur Pulau Jawa. Karena kunonya itu, barangkali, Bondowoso telah menyandang julukan sebagai "kota pensiun". Daerah penghasil padi dan tembakau ini, sampai tahun 1900-an masih merupakan wilayah administrasi Besuki. Entah bagaimana, tiba-tiba di zaman revolusi Bondowoso menjadi ibu kota bekas Karesidenan Besuki, membawahkan kota-kota Jember, Situbondo, dan Banyuwangi. Berpenduduk lebih dari 600 ribu jiwa, dengan luas sekitar 1.560 kilometer persegi, kota ini dihuni mayoritas urban dari Madura. Tentu saja, bahasa Madura di kawasan ini sangat dominan. Menurut K.H. Hoesnan Thoha, pemuka masyarakat di Bondowoso, masyarakat Madura tak bisa dilepaskan dari sapi. Begitu pula yang telah bermukim di Bondowoso.
"Sudah lama sapi jadi tolok ukur sosial masyarakat," katanya. Di zaman kolonial, Bondowoso dijadikan Belanda sebagai tempat peristirahatan seperti Malang. Dikisahkan, Ratu Wilhelmina bahkan sempat bertandang ke Bondowoso untuk menyaksikan adu sapi. Menurut penuturan sesepuh Bondowoso yang masih tinggal, di tahun 1920-an itu rombongan Ratu menyaksikan adu sapi yang diselenggarakan rakyat, di tengah alun-alun. Didahului dengan tari pecut yang gemulai, ditarikan oleh gadis-gadis Madura, konon, Ratu begitu terpesona oleh adu sapi.
Menurut saksi mata ketika itu: Wilhelmina sempat tersenyum-senyum sembari, konon, menepuk-nepuk bahu ajudannya karena melihat tingkah sapi yakni yang emoh bertarung, lalu menunggangi lawannya dari belakang. Tapi Ratu pun bisa begitu tegang, setelah menyaksikan pelipis seekor sapi berdarah, karena tulang tanduknya patah. "Waktu dulu itu bumiputra yang menyaksikan hanya boleh dari jarak jauh, dibatasi pagar berduri," kata seorang nenek di Bondowoso. Oh, ya, bagaimana pula nasib Ki Ronggo? Ia tentu saja, kemudian, pada harinya, meninggal.
Kemudian dimakamkan di kota yang didirikannya itu, dan dipuja sebagai cikal-bakal Bondowoso. Sampai kini makamnya dikeramatkan. Menjelang adu sapi, makam ini ramai. Para pemilik sapi mohon restu sang cikal-bakal. Kini terbentuk sebuah yayasan Ki Ronggo. Maklum, anak cucu Ki Ronggo kian banyak, dan banyak pula yang jadi orang, sampai di Jakarta. Atas prakarsa Kapolri, Almarhum Jenderal Polisi Soetjipto Joedodihardjo, yang juga masih keturunan Ki Ronggo, lahirlah Ikatan Keluarga Ki Ronggo. Mengenai adu sapi yang sekarang sudah menjurus ke arena judi, seorang warga ikatan itu berkomentar, "Memang benar Ki Ronggolah pendiri Bondowoso, tapi beliau itu tak mengadu sapi, apalagi menganjurkan orang berjudi," katanya.
Ki Ronggo, konon, selain santri yang taat, juga dikenal sebagai penganut tarekat yang arif bijaksana. * * * Matahari saat itu mulai condong ke barat. Pondokpondok di seputar arena masih ramai penonton. Sepasang demi sepasang sapi maju ke gelanggang. Ramainya penonton sedari pagi hampir tak pernah berhenti. Di celah-celah pondok sekitar arena terlihat anak-anak kecil melotot mengikuti jalannya pertandingan, dengan pakaian pramukanya. "Dan babak berikutnya . . . si Basoka melawan si Gempur ...," kata Ied (pembantu) juri di balik pengeras suara.
Baku hantam, baku hunjam. Saling seruduk. Darah mengucur. Tanduk patah. Ini jadi pemandangan rutin di arena. Kemudian, Allahu Akbar ... azan magrib dari masjid. Adu sapi pun usai. Kehidupan malam datang memulai. Lenguh sapi sesekali terdengar mengiringi sapi-sapi yang pulang kandang. Para penonton yang umumnya mengenakan pakaian seadanya -- kebanyakan berselempang sarung atau celana komprang -- pulang dengan derap langkah yang loyo.
Mungkin kelelahan. Atau menyimpan masygul karena kekalahan. Sapi, yang di India dihormati sebagai dewa, di sini bisa disumpah serapah dan ditendang-tendang jika kalah. Sebaliknya bagi sapi-sapi yang menang, dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Disanjunglah secara berlebihan. Bak pengantin yang dielu-elukan. Dan hewan-hewan itu, entah gembira, entah sedih, diadu dengan sesamanya. Memang jarang, tapi bisa saja, seekor sapi menemukan ajal di arena. Sementara itu, tak jelas benar adakah puja sanjung bila ia menang membuat ia bangga, merasa hidupnya sebagai sapi tak sia-sia.
 Mungkin saja si Mawar atau si Pelor masuk koran Jawa Pos. Tapi apa ia bisa membaca?

Sumber akses:http://majalah.tempointeraktif.com/

Kerraban Sape: Lomba Balapan Sapi Ala Madura

Lilik Rosida Irmawati

Sebuah Karya Inovatif        
            Konon pada era pemerintahan Pangeran Katandur di keraton Sumenep pada abad ke-15  (1561 M), Raja arif  bijaksana ini senantiasa memikirkan cara agar para petani dapat meningkatkan produksi pertanian. Karena pada masa itu, cara bercocok tanam masih sangat sederhana, yakni menggunakan peralatan serba batu. Sang Pangeran, akhirnya menemukan ide cemerlang. Setelah berembuk dengan para cerdik pandai, maka dititahkan kepada ahli pertukangan untuk membuat alat yang terbuat dari bambu. Dan alat tersebut ditarik oleh dua ekor sapi, diharapkan dengan bantuan alat tersebut akan mampu mengurangi beban kerja petani. Maka terciptalah sebuah peralatan , yaitu bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi. 

Pangeran Katandur, adalah seorang pemimpin yang penuh dengan pemikiran kreatif dan inovatif. Ketika melihat sebagian rakyatnya berkurang kesibukannya seusai panen, terpikir oleh Sang Pangeran untuk memanfaatkan waktu luang dan terbuang tersebut. Semacam keramaian sekaligus kegiatan rekreasi, yang nantinya akan mampu meningkatkan produksi, baik produki peternakan maupun produksi pertanian.
            Ide cemerlang pun terlahir, yaitu sebuah bentuk permainan yang mengasyikkan terbentang di benak pikiran sang Pangeran. Permainan yang muncul di pelupuk  mata adalah semacam perlombaan. Perlombaan memacu sapi dengan cara memacu berpasang-pasang sapi dalam sebuah areal tegalan yang luas. Dan dalam permainan tersebut, pasangan sapi yang diperlombakan dalam pacuan  harus menggunakan peralatan serupa “bajak”, yang biasa dipakai untuk menggarap sawah ladang.

            Dalam benak Sang Pangeran,  permainan dan perlombaan itu tidaklah jauh kaitannya dengan kegiatan sehari-hari para petani. Dalam arti, bentuk permainan itu nantinya dapat memberikan motivasi dan kecintaan rakyat serta kewajibannya pada sawah ladang. Disamping itu, agar rakyat mampu meningkatkan produksi ternak sapi. Dalam arti, mampu meningkatkan hasil ternak sapi yang sehat, sehingga dapat diadu larinya juga mampu menghasilkan daging sapi bermutu tinggi.

            Gagasan Pangeran Katandur terwujud, mula-mula penggandeng pasangan sapi itu terbuat dari bambu. Bentuknya pun serupa bajak. Tetapi ujung bawahnya dibuat rata, sehingga tidak mendongkel tanah. Alat tersebut dinamakan “Kaleles”. Sejak saat itulah, kerapan sapi menjadi perlombaan dan permainan rakyat yang sangat digemari. Pada umumnya perlombaan ini diadakan seusai panen.
Dari masa ke masa, pacuan Kerapan Sapi menjadi bentuk pesta hiburan rakyat dan menjadi tersohor seantero jagat. Pada akhirnya identitas pulau Madura tidak terlepas dari tradisi budaya rakyat ini. Kisah tentang kejantanan para Joki ketika menunggangi Sapi Kerapan dalam sebuah arena, memacu pasangan sapi dalam kecepatan tinggi. Kecepatan, ketangkasan, kecekatan, kepiawaian ketika mengendalikan sapi-sapi tunggangan, merupakan sebuah prestasi yang cukup fantastis dan menakjubkan. Tak kalah dengan kepiawaian para matador di gelanggang adu banteng  di Spanyol.

            Di samping sebagai sarana hiburan, pacuan Kerapan Sapi mampu menanamkan kecintaan rakyat terhadap alam dan lingkungannya, memotivasi sekaligus mengangkat rakyat pada tingkat kemakmuran tinggi. Gagasan Pangeran Katandur yang spektakuler tersebut, ternyata mampu meningkatkan produksi pangan. Karena untuk mendapatkan sapi yang bagus dan mutu daging tinggi diperlukan makanan berkualitas. Dari sektor ini, raja Katandur mampu menggerakkan rakyat untuk melakukan penghijauan serta meningkatkan semangat dan gairah kerja dalam mengolah dan mengelola tanah.

            Tak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas ternak. Prioritas utama adalah dalam bidang ilmu beternak sapi. Minat dan perhatian rakyat terpusat pada cara-cara yang baik, praktis dalam pengembang-biakan sapi. Usaha peternakan sapi tidak saja dikaitkan pada kepentingan pertanian semata, tapi juga pada bibit-bibit sapi yang sehat dan mampu berlari kencang. Pada akhirnya, para peternak bukan hanya mampu menghasilkan sapi yang bagus, berbobot dan mampu berlari kencang, tapi juga mampu mengembangkan ternak yang menghasilkan daging bermutu tinggi. Sampai sekarang daging sapi Madura, dikenal karena sangat lembut dan halus serat-seratnya.
            Keberhasilan Pangeran Katandur dalam memicu serta memacu gairah rakyat dalam peningkatan kemakmuran, merupakan sesuatu yang sangat prestisius. Kejeniusannya dalam mengembangkan gagasannya sampai sekarang masih terasa. Pesta rakyat aduan sapi yang sekarang lebih dikenal dengan Kerapan Sapi telah berkembang sedemikian rupa. Karena dengan adanya kerapan sapi ini, telah menggugah dan menggali nuansa seni yang ada dalam diri manusia. Seni tari, seni musik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian acara perlombaan.

 Proses Pelaksanaan 
            Sampai saat ini pesta permainan rakyat, Kerapan Sapi diadakan setiap tahun. Dari tingkat wilayah terendah sampai tingkat Karesidenan. Seleksi biasanya diadakan dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten sampai tingkat Madura. Konon ketika wilayah Madura masih berada dalam cengkeraman kolonial Belanda,  Kerapan Sapi dilombakan dengan pengaturan dan jadwal sedemikian rupa, sehingga puncak kemeriahan perlombaan jatuh pada tanggal 31 Agustus, tepat hari lahirnya ratu Wilhelmina. 

            Dalam pelaksanaan perlombaan sebagai ajang pesta rakyat, Kerapan Sapi menyedot semua energi dan aktifitas. Jauh-jauh hari sebelum acara diadakan, perhatian terhadap hewan tersebut sangatlah istimewa. Hewan yang akan dilombakan berada dalam pengawasan yang sangat ketat. Dari pola makanan, suspensi penambah stamina berupa jamu dan ramuan  sampai pada kesiapan dalam bentuk supranatural, jampi-jampi, mantera-mantera. Hal itu dalam upaya agar sapi nantinya menjadi yang tercepat, terdepan dan menang.
Adapun kesibukan yang dilakukan sebelum acara perlombaan dimulai, antara lain : 

  1. Pada malam hari sebelum hari kerapan tiba, pemilik beserta keluarga serta para supporternya membawa pasangan sapi ke arena perlombaan. Pasangan sapi tersebut, diiringi seperangkat gamelan dan Saronen. Mereka mengadakan perkemahan, sehingga pada malam hari sebelum hari H tiba, di arena perlombaan menjadi tempat yang sangat meriah. Karena peserta dari daerah lain pun berkumpul disana,
  2. Pada malam tersebut, tak seorangpun dapat tidur. Karena masing-masing orang telah mempunyai tugas dan kewajiban. Terutama petugas perawat sapi, disamping memijat-mijat (massage) juga menjaga pembakaran. Dengan tujuan agar tak seekor nyamuk pun  datang mendekat. Bahkan dari sebagian anggota rombongan melakukan tirakat, agar keesokan harinya sapi yang menjadi andalan keluar sebagai pemenang,
  3. Pada pagi hari, sepasang sapi digandengkan pada Kaleles, dan didandani sedemikian rupa sehingga sepasang sapi tersebut ber-penampilan keren, gagah dan menarik. Setelah itu, sepasang sapi tersebut diarak keliling lapangan diiringi oleh bunyi “taktuk”, (semacam seperangkat gamelan) yang bertalu-talu serta Saronen. Tingkah polah  para pengiringpun tak kalah meriah, ada yang membisiki sapi dengan rayuan kata-kata indah agar berjuang untuk menang, ada pula yang menari-nari sambil bernyanyi,
  4. Setelah melakukan seremonial mengelilingi lapangan, sepasang sapi tersebut dibawa ke tempat yang teduh, menunggu giliran nomer perlombaan. Semua aksesoris di tubuh sapi ditanggalkan, dan sepasang sapi tersebut telah siap tempur untuk memacu kecepatannya berlari.
 Dari masa ke masa dan telah beratus-ratus tahun pesta rakyat Kerapan Sapi ini dilombakan. Tentunya telah terjadi perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Pada era sekarang tidak lagi melakukan perkemahan pada malam hari, namun sapi-sapi yang akan dilombakan langsung datang pada hari H, saat perlombaan. Selain itu pada awal keberadaan Kerapan Sapi, tidak ada model penyiksaan seperti pada masa sekarang. Untuk memperkencang laju Sapi ketika berlaga, maka dipergunakan pelepah  daun pisang (pak-kopak), dibentuk semacam mainan dan menimbulkan suara keras ketika dipukulkan ke punggung sapi. Binatang tersebut benar-benar diperlakukan secara manusiawi.

  Berbeda dengan era sekarang “rekeng coccona” sapi (alat pemacu yang digunakan joki) dilengkapi dengan benda-benda tajam. Benda-benda tajam tersebut kemudian ditusuk-tusukkan oleh Joki ke pantat sapi, begitu aba-aba dimulai. Tentu saja sapi-sapi akan lebih memperkencang laju larinya, karena kesakitan. Belum lagi bentuk penyiksaan yang lain, sebelum sapi di lepas berlaga di arena, seluruh bagian badan  terutama bagian kepala sapi disiram air cabe atau dibaluri reumason.

Syarat-syarat serta aturan-aturan dalam lomba
            Dalam setiap event lomba, sapi-sapi yang akan diikutsertakan dalam perlombaan biasanya melewati seleksi. Adapun yang melakukan seleksi ialah dokter hewan dari dinas kehewanan. Adapun sapi-sapi yang telah dianggap memenuhi persyaratan antara lain ; tinggi badan sapi minimal 120 cm, berbadan sehat dan berkulit bagus, umur sapi ditentukan dan diketahui dari keadaan gigi, kedua tanduk sapi harus baik dan harus sama, dan yang diperbolehkan dijadikan sapi kerapan berasal dari dataran Madura.  Namun untuk saat ini persyaratan diatas bukan menjadi patokan lagi dalam sebuah ajang perlombaan. 

            Dalam setiap perlombaan diadakan suatu bentuk kepanitiaan perlombaan lengkap dengan dewan juri. Panitia pelaksana biasanya berasal dari pihak Pemerintah Daerah, apabila dilaksanakan dalam even kabupaten dan pihak kecamatan apabila dilaksanakan dalam even kecamatan. Adapun komposisi kepanitiaan berasal dari unsur dinas instansi, Muspika dan dibantu oleh Dinas Kehewanan. Tidak menutup kemungkinan kepanitiaan dibentuk oleh masyarakat pecinta sapi kerapan (swasta), apabila ditengarai ada unsur tidak adil apabila panitia pelaksana berasal dari unsur pemerintah.

1.      Adapun ketentuan-ketentuan lain yang diatur dalam setiap perlombaan, adalah :
2.      Sepasang Sapi Kerapan dinyatakan sebagai pemenang, apabila kaki depan telah menginjak atau melompati garis finis,
3.      Sepasang sapi harus tetap dinaiki oleh seorang joki, mulai dari start sampai finis .walaupun sepasang Sapi Kerapan telah sampai ke garis finis, tetapi tanpa joki (sebab jatuh di tengah arena), akan dinyatakan kalah,
4.      Setiap joki diberi selempang dengan warna berbeda,
5.      Untuk mendapatkan pemenang, diadakan babak penyisihan. Yang menang dimasukkan dalam satu pool pemenang, demikian pula yang kalah. Untuk babak berikutnya, pemenang akan diadu dengan pemenang, yang kalah diadu dengan yang kalah. Sehingga setelah acara perlombaan usai, maka akan di dapat pemenang sebanyak 6 pasang, yaitu juara I, II dan III dari golongan pemenang dan juara I, II dan III dari golongan kalah,
6.      Perlombaan dimulai apabila petugas pemegang bendera di garis start melambaikan bendera dari arah bawah keatas.

Adapun tugas dan tanggung-jawab dewan juri, antara lain :

1.      Beberapa anggota dewan juri bertugas di garis finis, untuk meneliti kaki sapi yang   pertama kali menginjak atau melompati garis finis,
2.      Diatas panggung ada beberapa anggota dewan juri, sebagai dewan hakim yang berwenang memutuskan sapi pemenang dengan memegang bermacam bendera dan ber tugas mengacungkan warna bendera yang sama dengan selempang joki pasangan sapi yang dinyatakan sebagai pemenang.
Atraksi di arena kerapan sungguh sangat menegangkan, mengasyikkan sekaligus menakjubkan. 

Bagaimana tidak ? Ketika dua atau tiga pasang sapi dilepas di tengah arena, berpacu dengan kecepatan tinggi, setelah tiba di garis finis harus ditahan laju kekencangan berlarinya. Agar tidak menabrak kian kemari dan menimbulkan korban berjatuhan. Dari arena itu, dapat disaksikan kepiawaian para joki dalam mengendalikan laju sapi tunggangannya juga kemahiran serta ketangkasan para petugas dalam mengendalikan perlombaan tersebut. Dan dapat dilihat pula, betapa mahir para pelatih hewan dalam menanamkan disiplin yang tinggi pada sapi-sapinya.

Di setiap kabupaten dalam wilayah Madura, terdapat lapangan kerapan yang dipergunakan dalam setiap even lomba. Lapangan Kerapan Sapi dilengkapi dengan tribune yang dibangun agak tinggi, sehingga penonton dengan leluasa dapat menyaksikan pertunjukan dari atas, tanpa takut ditabrak oleh sepasang sapi yang sedang berpacu. Di tepi lapangan juga dibatasi pagar bambu, dimana para supporter dari masing-masing sapi bergabung dengan para penonton untuk memberikan semangat kepada sapi yang sedang berlaga, teriakan-teriakan massa membahana, riuh rendah, bergemuruh, bersamaan dengan kecepatan sapi yang sedang berpacu.
Suasana yang demikian itulah, menjadi salah satu daya tarik luar biasa. Karena dalam arena ini, yang dipertontonkan adalah ketangkasan, ketangguhan, keuletan, kegigihan dan kelihaian untuk menjadi yang tercepat dan terdepan. Ekspresi urakan, kesangaran, hura-hura terekspos begitu nyata. Sebuah kompetisi yang menguras semua energi, pikiran, tenaga serta emosional massa.

Dibalik kemeriahan dalam arena Kerapan Sapi, ada satu makna filosofi yang sangat mendalam. Yaitu untuk mencapai sebuah tujuan atau cita-cita perlu adanya satu kekompakan dan kebersamaan. Satu tujuan cita-cita akan tercapai apabila berada dalam satu komando. Joki merupakan gambaran sang komando dengan mengendarai sapi tunggangan sebagai alat dalam mencapai tujuan. Dengan melintasi garis lurus (sapi berlari lurus), dipandu oleh Joki. Diumpamakan, garis lurus tersebut adalah pengejawantahan agar manusia senantiasa berada dalam lintasan yang lurus. 

Gambaran Joki sebagai komando diperjelas lagi dengan posisi kaki kiri Joki, diletakkan di Kaleles (nangkring), sedangkan kaki kanan merangkul di Kaleles yang melengkung. Ini merupakan gambaran (tipikal) seorang komando (pemimpin) yang harus berdiri tegak diatas yang dipimpinnya, juga merangkul sekaligus memiliki terhadap komponen yang dipimpinnya.
Dalam arti yang lebih lugas, suatu tujuan akan tercapai dan sukses apabila ada kerjasama, kebersamaan dan kekompakan yang dipandu oleh seorang komando (pemimpin), yang memiliki, merangkul juga melindungi komponen yang dipimpinnya. Sang komando dalam menjalankan kepemimpinannya senantiasa melintasi jalan yang lurus, selalu berada dalam rel kebenaran dan jujur.

Adapun aksesoris sekaligus sebagai alat batu dalam menjalankan sapi kerapan, ialah : Kaleles, Pangonong dan ajer. Kaleles berasal dari bahasa Jawa “leles”, yang berarti mengambil sisa. Makna dari Kaleles adalah, seorang komando (pemimpin) harus mendahulukan kepentingan yang dipimpinnya, barulah komando mengambil jatah (sisa) dari bawahannya. Pangonong merupakan pedoman dan Ajer adalah bendera yang akan menjadi tanda sekaligus pemacu semangat. Berkibarnya bendera, adalah gambaran meluapnya semangat dalam meraih suatu tujuan cita-cita.

Dalam even-even tertentu pelengkap kemeriahan pentas rakyat Kerapan sapi, biasanya diadakan bermacam-macam pertunjukan kesenian dan ketrampilan. Diantaranya adalah tarian massal “Tari Pecut”. Tarian ini menggambarkan sebuah ungkapan kegembiraan serta rasa terima kasih para pemilik sapi yang telah berhasil menjadi pemenang. Dan dalam acara tersebut, juga didemonstrasikan ketrampilan sapi betina, yang biasa disebut dengan “Sapi Sono’”. Dalam atraksi ini, sepasang sapi betina akan mempertontonkan kemampuannya memasuki sebuah arena, dengan memanis-maniskan diri, berjalan sambil berjoget serta mengangkat kaki bersamaan ke atas papan.

Kerapan Sapi, Trade Mark Madura
            Pada masa lampau dalam sebuah desa, ada beberapa warga yang memelihara sapi kerapan. Dalam setiap event perlombaan senantiasa melibatkan rumpun keluarga sebagai pendukung dana. Dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan selama perlombaan, menjadi tanggung jawab bersama. Pada masa sekarang hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memelihara sapi kerapan. Hal itu disebabkan oleh biaya  pemeliharaan  yang sangat mahal. Belum lagi biaya ketika sapi-sapi tersebut berlaga dalam sebuah arena. Semua biaya dalam proses tersebut langsung di tanggung oleh pemilik sapi, biaya makan, biaya musik pengiring, biaya transportasi dan sebagainya. Maka tidaklah mengherankan, kalau saat ini hanya orang-orang berduit, ataupun para pejabat saja yang mampu memelihara Sapi Kerapan.

            Walaupun demikian Kerapan Sapi tetap merupakan sebuah pesta rakyat dan mampu menyedot perhatian rakyat di dataran pulau Madura. Hal itu dapat dilihat, setiap event perlombaan yang diadakan di tingkat Kecamatan, Pembantu Bupati, Kabupaten atau pun tingkat Madura senantiasa dibanjiri oleh penonton dari semua lapisan masyarakat. Masyarakat dari berbagai kalangan, tumpah ruah, berbondong-bondong mengeluh-elukan sapi yang berasal dari daerahnya. Hal itu disebabkan adanya ikatan emosional yang kuat antara peserta dan penonton yang berasal dari satu wilayah. Tak mengherankan apabila ajang Kerapan Sapi dijadikan simbol status sosial. Selain itu Kerapan Sapi mampu membangun kebersamaan, mempertautkan kembali tali silaturrahim serta menaikkan pamor suku bangsa Madura. 

Kerapan Sapi telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan. Di sektor pariwisata, Kerapan Sapi merupakan pemasok utama Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Karena dari sektor ini, para wisatawan manca negara maupun wisatawan domestik mengeluarkan koceknya, membeli karcis untuk menonton keperkasaan, kelincahan, kecepatan laju sapi, sekaligus menyaksikan kepintaran, kecekatan, kelihaian, kepiawaian para Joki ketika mengendalikan sapi tunggangannya. 

Setiap tahun ada acara puncak  Kerapan Sapi yang diselenggarakan sekitar bulan Agustus atau September. Acara tahunan tersebut merupakan event paling bergengsi karena memperebutkan piala bergilir dan piala tetap Presiden. Dalam event itu, masing-masing Kabupaten dalam wilayah Madura mengirimkan pasangan sapi terbaiknya. Adapun Sapi Kerapan  yang berhak berlaga dalam arena bergengsi tersebut, merupakan hasil seleksi yang ketat dari masing-masing wilayah Kabupaten. Dengan demikian, pasangan sapi kerapan adalah duta dari masing-masing Kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.


Saronen: Instrumen Musik Madura

Lilik Rosida Irmawati

Instrumen Musik Serba Guna

            Ketika anda menyaksikan beberapa atraksi kesenian daerah di Madura, instrumen musik pengiring yang paling dominan adalah Saronen. Instrumen musik ini sangat kompleks dalam penggunaannya. Katakanlah musik serba guna yang mampu menghadirkan berbagai nuansa sesuai dengan kepentingan. Walaupun musik instrumen ini merupakan perpaduan dari beberapa alat musik, namun yang paling dominan adalah liukan-liukan alat tiup berbentuk kerucut sebagai alat musik utama. Alat musik tersebut bernama Saronen.

             Konon, orkes Saronen ini berasal dari desa Sendang, kecamatan Pragaan. Saronen berasal dari kata Senninan, (hari Senin). Kala itu, kyai Khatib Sendang (cicit Sunan Kudus), menciptakan orkes ini sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam. Setiap hari pasaran yang jatuh pada hari Senin, Kyai Khatib menggunakannya dalam upaya menarik massa. Pertama kali yang dilakukan oleh Kyai yang inovatif ini, acara diawali dengan munculnya dua badut. Kedua badut ini, menari dan menyanyi serta melawak. Adapun materi lawakan banyak berisi sindiran dan kritikan  tentang situasi dan kondisi  serta kebijakan pemerintahan pada masa itu. Untuk meramaikan dan menambah semarak adegan-adegan yang dibawakan kedua badut tersebut, maka  acara tersebut diselingi musik yang mampu membangun  suasana menjadi riang  gembira.

            Setelah massa terkumpul, barulah kyai Khatib Sendang memulai dakwah. Sehingga pada waktu itu banyak sekali yang tertarik, kemudian menyatakan diri untuk mengikuti ajaran agama Islam. Tentu saja, kyai Khatib dalam menciptakan instrumen musik Saronen menyesuaikan dengan karakter masyarakat Madura. Suku Madura merupakan sosok yang terkenal mempunyai watak keras, polos, terbuka dan hangat. Sehingga, jenis musik riang dan ber-irama mars menjadi pilihan yang paling pas. Dan dalam perkembangannya, musik Saronen menjadi musik yang sangat digemari dan merakyat serta menjadi trade mark musik Madura.

Ciri khas Instrumen Saronen         

Musik instrumentalia Saronen terdiri dari 9 alat musik dengan nilai filosofi Islam yang sangat kental. Karena ke- sembilan  alat musik tersebut adalah pengejawantahan ayat pendek yang menjadi pembuka Al’Qur’anul Karim, yaitu Bismillahhirrohmanirrohim. Adapun ke-9 alat musik tersebut terdiri dari ;  1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar dan 1 gendang dik gudik (kecil).  
    
            Ke – sembilan alat musik tersebut menjadi perpaduan yang harmoni, sedangkan. yang menjadi ruh dari orkes ini adalah alat musik Saronen yang berbentuk kerucut. Alat musik ini terbuat dari pohon jati, dengan enam lubang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas. Ujungnya terbuat dari kayu siwalan dan menjepit lidah gandanya (pepet), terbuat dari sepat atau dari daun pohon siwalan. Pada pangkal alat musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung kelapa yang nampak seperti kumis. Saronen berukuran sekitar 40 cm. Alat musik jenis ini berasal dari Timur Tengah.

            Dalam perkembangannya, alat musik yang terdiri dari 9 unsur tersebut mengalami penambahan sehingga menjadi 12 alat musik. Yaitu dengan penambahan 1 alat musik saronen serta 1 alat musik kempul. Begitu pula dengan jumlah penabuh/pemusik. Orkes Saronen yang tetap memakai komposisi (versi) lama, menggunakan alat musik sebanyak 9 dengan penabuh sebanyak 9 personel. Masing-masing membawa satu alat musik, sedangkan gong dan kempul dipikul oleh dua penabuh, yang secara bergantian memukul alat musik tersebut. Sedangkan yang menggunakan komposisi (versi) baru alat musik berjumlah 12, serta penabuh/pemusik juga berjumlah 12 orang.

Instrumen Musik ber-irama Mars

Irama yang dihasilkan dari instrument musik Saronen dipakai sebagai pengiring kegiatan Kerapan Sapi, atraksi Sapi Sono’, berbagai upacara ritual di makan keramat, acara pesta perkawinan ataupun dalam event-event kesenian. Selain itu orkes musik Saronen dapat berdiri sendiri dengan menyajikan berbagai  bentuk tontonan yang menarik dan atraktif. Yaitu dengan cara memodifikasi berbagai unsur gerak, baik seni tari, seni hadrah maupun seni bela diri silat dalam kemasan gerak tari sesuai irama musik yang dimainkan. 

Begitu pula dengan lagu-lagu yang dibawakan, musik. Saronen mampu mengiringi lagu-lagu dari berbagai aliran musik, baik itu keroncong, dangdut, pop, rock and rool maupun lagu-lagu daerah lainnya. Lagu-lagu keroncong yang ber-irama mendayu-dayu misalnya, mampu digubah dalam irama mars yang dinamis.

Dalam setiap atraksi, orkes Saronen ini mampu membangun serta menciptakan suasana yang hangat dan gembira. Ketika berjalan mengikuti iring-iringan pasangan sapi, baik Kerapan Sapi atau Sapi Sono’, upacara-upacara ritual, mengiringi atraksi kuda Kenca’ ataupun arak-arakan para pemusik ini berjalan dengan langkah-langkah pendek sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama, gerakan-gerakan itu disesuaikan dengan irama lagu yang dibawakan.

            Alat musik Saronen biasanya dipakai sebagai pembuka komposisi dengan permainan solo. Suaranya yang sedikit sengau dan demikian keras, meloncat-loncat, melengking-lengking dan meliuk-liuk dalam irama yang menghentak. Baru setelah itu diikuti oleh pukulan alat musik lainnya, pukulan gendang, kennong, ketukan kerca dan simbal. Perpaduan alat-alat musik tersebut menghasilkan keselarasan irama pada seluruh orkes. 

            Setiap komposisi musik yang dimainkan, di awali dalam tempo lamban yang berubah menjadi tempo medium, lalu semakin cepat, atau sebaliknya, permainan diawali langsung dalam tempo medium langsung berubah menjadi cepat dan berakhir dengan tempo yang semakin cepat untuk seluruh orkes. Permainan yang sangat variatif dan penuh improvisasi dari para pemain, serta teriakan yang dilontarkan para pemain menambah kegairahan pada irama yang sudah melengking dan meloncat-loncat. Dalam setiap permainan, setiap komposisi lagu berakhir seketika, dalam arti semua instrumen berhenti pada saat yang sama.

            Seperti halnya instrumen musik lain, Saronen dapat dimainkan sesuai  dengan jenis irama yang diinginkan. Walaupun sangat dominan memainkan jenis irama mars, dalam bahasa Madura irama  sarka’, Saronen ini mampu menghasilkan jenis irama lainnya, yaitu irama lorongan (irama sedang). Jenis irama ini terdiri dari dua, yaitu irama sedang  “lorongan jhalan” dan  irama slow ‘lorongan toju’. Masing-masing irama tersebut dimainkan di berbagai kegiatan kesenian dengan acara serta suasana yang berbeda.

Untuk irama sarka’, biasanya dimainkan dalam suasana riang dan permainan musik cepat dan dinamis. Tujuannya adalah memberikan  semangat dan suasana hangat. Adapun semua lagu dapat digubah dalam irama sarka’. Sementara itu, untuk jenis irama lorongan, baik lorongan jhalan (sedang) atau lorongan toju’ (slow), lagu-lagu yang dimainkan biasanya berasal dari  berbagai lagu gending karawitan.

            Ketika mengiringi kerapan sapi  menuju lapangan untuk berlaga, irama sarka’ ini dimainkan untuk memberikan dorongan semangat, baik kepada sapi atau pun pemilik serta para pengiring-nya. Begitu pula ketika orkes Saronen mengiringi sepasang pengantin, irama  ini dimainkan sampai sepasang pengantin itu mencapai pintu gerbang. Musik ber-irama sarka’ ini, mampu menciptakan suasana hangat dan kegembiraan  bagi penonton. 

Sedangkan irama lorongan jhalan (irama sedang), biasanya dimainkan  pada saat dalam perjalanan menuju lokasi. Baik ketika sedang mengiringi sapi kerapan ataupun atraksi sapi sono’. Selain itu, irama ini dimainkan ketika mengiringi atraksi kuda kenca’ atau pun di  berbagai acara ritual yang berkaitan dengan prosesi  kehidupan manusia. Adapun lagu-lagu yang dimainkan berasal dari lagu-lagu gending karawitan, seperti gending Nong-Nong, Manyar Sebuh, Lan-jalan ataupun Bronto Sewu.

Irama lorongan toju’, biasanya memainkan lagu-lagu gending yang ber-irama lembut (slow). Jenis irama ini dipakai untuk mengungkapkan luapan perasaan yang melankonis, rindu dendam, suasana sedih ataupun perasaan bahagia. Irama lorongan toju’ biasa dimainkan ketika mengiringi pengantin  keluar dari pintu gerbang menuju pintu pelaminan. Adapun gending-gending yang dimainkan adalah alunan gending Angling, Rarari, Puspawarna, Kinanti, Gung-Gung dan lainnya.

            Dalam setiap penampilan agar semakin memikat, biasanya para pemain menggunakan seragam yang sama. Untuk acara-acara ritual, para pemain biasanya memakai odheng Madura dan bersarung; ada juga yang mengenakan celana dan baju hitam longgar khas petani Madura serta berkaos dengan motif garis-garis panjang berwarna merah putih. Namun di kalangan kaum muda biasanya mereka tampil lebih modern, dengan mengenakan pakaian warna-warna terang dan mencolok serta memakai rompi yang dihiasi oleh rumbai-rumbai  benang emas. Penampilan mereka semakin keren dengan memakai kaca mata hitam serta topi lakan.

            Khusus musik Saronen, kaum muda (yang tinggal di pedesaan) tidak merasa malu ketika menggeluti musik ini. Karena jenis irama yang dimainkan dapat disesuaikan dengan perkembangan musik yang sedang ngetrent. Disamping itu musik etnik ini mampu dimainkan, dimodifikasi dan diimprovisasi ke berbagai aliran musik. Sehingga irama yang dihasilkan memenuhi selera masyarakat baik yang menyukai jenis musik dangdut, pop, keroncong, karawitan/gendingan/tembang  ataupun aliran musik kontenporer.

Senin, 10 Januari 2011

Posisi Budaya Etnik Madura Dalam Persimpangan


Lilik Rosida Irmawati

Seni budaya etnik Madura merupakan unsur kebudayaan masyarakat Madura, yang hidup dan berkembang selaras dengan perubahan-perubahan masyarakatnya. Berbagai  ragam dan  konstelasi budaya  yang tumbuh dan berkembang di masyarakat telah menjadi kesepakatan yang tidak dapat ditolak untuk menjadi perangkat budaya masyarakat Madura. Namun demikian, tampaknya kesepakatan yang telah menjadi tali temali dalam membangun nilai-nilai kekerabatan, persaudaraan dan  nilai humanism tersebut, sekarang mulai dipertanyakan.
Dalam transformasi budaya global yang kemudian menyentuh tatanan kehidupan masyarakat Madura; infrastructure budaya yang bergerak melalui berbagai aktifitas masyarakat telah menjadi wilayah yang kurang menguntungkan bagi kepentingan budaya lokal. Hal ini disebabkan wilayah budaya yang telah menjadi bagian penting tersebut, telah mengubah image masyarakat  sampai  pada wilayah struktur sosial dan pola-pola hubungan sosial.
Struktur sosial yang dibentuk oleh berbagai status individu di dalam hirarki pretise dalam suatu masyarakat tampaknya sangat kuat pengaruhnya terhadap fenomena budaya Madura sendiri. Karena  status individu tidak terlepas dari peran dan fungsinya bagi  masyarakat Madura, dan pada gilirannya, keterikatan peran sebagai pola kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, keyakinan, kepercayaan, sikap, perasaan, nilai, tingkah laku yang oleh anggota masyarakat diharapkan menjadi ciri dan sifat individu yang menduduki posisi tertentu. Status dan peran ternyata saling mempengaruhi.

Kecemasan-Kecemasan  Surutnya Budaya Lokal.
Surutnya budaya lokal dalam kancah pergaulan budaya nasional banyak kalangan mulai mempertanyakan. Dalam pergulatan budaya nasional ini, budaya lokal  dewasa ini mulai menuntut hak sebagai infra struktur yang memiliki vitalitas dalam pembangunan nasional. namun ternyata, bila ditelusuri keberadaannya hampir tidak mempunyai tenaga, karena vitalitas material telah sedemikian menguasai wilayah, akibatnya kebudayaan lokal mengalami penyurutan yang demikian parahnya.
Semua orang telah  merasakan, bahwa masuknya bentuk-bentuk budaya baru beserta nilai-nilai baru yang ditawarkan, baik yang masuk lewat keterbukaan dan sikap akomodatif masyarakat sendiri, maupun yang “membonceng” praktek-praktek imperialism Barat, telah menimbulkan berbagai perubahan dan pergeseran nilai di masyarakat. Sekularisme, materialisme, snobisme, hedonisme, permisifisme, tumbuh dimana-mana menjadi berhala-berhala baru yang hidup dalam diri “manusia-manusia modern”. Bahkan semangatnya merambah ke bidang-bidang kesenian yang semua bernafas spiritualitas yang luhur, kini tinggal catatan yang kurang diminati oleh masyarakatnya sendiri.
Dalam keadaan demikian, diantara kekhawatiran, kecemasan dan pesimisme, memang sempat muncul optimisme; bahwa budaya Madura masih memiliki kekuatan resistensi (melawan) untuk tetap survive  dalam hempasan arus budaya baru. Dalam sisi yang lain, rasa optimisme masih terasa dengan pembuktian masih hidup dan berlangsung beberapa tradisi masyarakat; dalam bentuk perilaku,  gerakan kesenian lokal dan penghargaan nilai kekerabatan, meski dalam batas tertentu.
Sejauh mana “sisa-sisa” budaya tersebut mampu  bertahan?. Kecenderungan yang meluas di dalam masyarakat, termasuk kalangan generasi muda, melihat kebudayaan (budaya) sebagai kata benda, secara fisik. Misalnya, ketika membicarakan budaya daerah, budaya lokal, tradisi masyarakat yang ada dan berkembang di masyarakat Madura, perhatiannya lebih tertuju pada bentuk-bentuk pertunjukan kesenian atau bentuk aktifitas masyarakat dalam sebuah prosesi pergelaran seni budaya. Kecenderungan ini tampaknya memang tidak salah, tetapi tidak lengkap tanpa dipahami substansi dari aktifitas tersebut. Substansi dari sebuah gerakan kesenian, misalnya, yaitu keinginan untuk mendapatkan “sesuatu” dari sebuah  pertanyaan dan pernyataan diri tentang hakikat manusia hubungannya dengan manusia, hubungannya  dengan alam dan hubungannya dengan Sang Pencipta.
Sandaran warga komunitas, terutama lapisan bawah dan paling bawah yang merupakan mayoritas masyarakat, merupakan dasar piramida tatanan masyarakat. Namun usaha memberdayakan lapisan dasar piramida masyarakat, rasanya akan mengalami persoalan bila mengabaikan unsur-unsur budaya lokal yang sangat beragam. Karena pada budaya lokal terdapat unsur komunikasi, mobilisasi, partisipasi dan kontrol, karena budaya lokal berhubungan langsung dengan  kemungkinan-kemungkinan untuk merebut kembali hak tuan atas  nasib sendiri dan daerah sebagai suatu ruang lingkup kehidupan bersama.
Yang dipertanyakan sekarang, seberapa jauh apresiasi masyarakat sebagai  pendukung kebudayaan lokal?. Kenyataan yang tidak dipungkiri, dalam memahami dan mengapresiasi kebudayaan lokal, dari kalangan generasi tua masih mengimpikan masa keemasan masa lalu. Sementara generasi 70-an sampai sekarang, tidak lagi mempunyai kegandrungan terhadap kebudayaan daerah. Dan bahkan generasi muda ada kecenderungan lebih jauh dari itu. Mereka enggan dengan budaya lokal yang diasosiasikan dengan keterbelakangan, kekolotan dan cara berfikir yang sifatnya menghambat. Sedikit sekali yang mau memahami dan mengapresiasinya.
Banyak hal yang menjadi penyebab melemahnya pemahaman dan apresiasi masyarakat  terhadap budaya lokal antara lain, yang utama sistem pendidikan  nasional tidak lagi memberi  peluang bagi anak didik untuk mengembangkan dan mengapresiasi budaya etniknya sendiri. Sedangkan lembaga-lembaga tradisional dan perannya tidak lagi berfungsi, dan sudah diambil alih oleh pemerintah. Peran institusi informal, pondok pesantren, dan ketokohan dalam sebuah system di masyarakat, seperti Ulama, tokoh masyarakat, dan elemen yang diaharapkan melahirkan petuah-petuah bijak,  tidak lagi efektif, mereka kerap sibuk membangun diri dalam konsep pembangunan material daripada pembangunan sosial. Pemangku adat yang ditokohkan sebagai orang pertama di masyarakat cenderung menjadi kebanggaan diri dalam design seremonial. Akibatnya peluang  dalam membangun kekuatan budaya lokal telah menjadi gamang dalam sebuah persimpangan
Dari persoalan tersebut, akibatnya yang diangkat dari budaya lokal dan tradisional adalah budaya material, sementara yang moral dan  spiritual yang menjadi substansi dari sebuah budaya lokal  kurang dan hampir tidak mendapat perhatian. Anehnya, arus bawah yang menjadi kekuatan sentral  menerima begitu saja tanpa prasangka, apalagi ditambah budaya import yang demikian gencar dari proses globalisiasi. Segala model “yang baru” semakin menjadi idola, sedang “yang lama” diberangus begitu  saja. “Dalam mengembangkan seni budaya, kita ikuti saja selera masyarakat. Kesenian  tidak perlu konsep, seni tradisi tidak relevan lagi jaman sekarang, minat masyarakat dangdut ya ikuti saja mereka”. Demikian  ungkapan  seorang pejabat birokrasi budaya beberapa waktu lalu.
Banyak pertanyaan akan muncul dan pernyataan yang memang nyata-nyata ada dalam kehidupan yang bertautan dengan masalah budaya lokal, sehingga pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan itu merupakan cerminan keadaan diri sendiri.  Tapi untuk ini, dalam format penciptaan masyarakat madani melalui karakteristik budaya lokal, maka perlu  digaris bawahi dalam batasan-batasan dalam mengupas persoalan budaya lokal, yaitu melalui metode pelestarian dan revitalisasi budaya.

Mengapa Pelestarian?
Sebagai kata, atau bahkan bisa disebut sebagai sebuah konsep, “pelestarian” menjadi pernyataan klasik. Namun sebagai sebuah konsekuensi, selanjutnya “mengapa” bisa menuntun menjadi pertanyaan baru: “bagaimana keadaan (budaya) kita sekarang?”. Jadi, letak pentingnya pelestarian budaya antara lain,  justru terdapat pada fungsi memulihkan kembali ingatan kolektif, agar dapat mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh lupa.  Melalui kegiatan pelestarian ini, yaitu melalui pendaftaran kembali “peritiwa-peristiwa masa lampau” yang dimiliki oleh masyarakat, dapat dibaca kemungkinan-kemungkinan untuk dijadikan acuan dan diharapkan menjadi representasi peristiwa budaya. Pelestarian akan menjadi penting, ketika “sesuatu yang hilang dan terlupakan” sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat selanjutnya.
 Pelestarian adalah langkah pertama untuk memulihkan ingatan agar masyarakat sebagai etnik, suku bangsa dan sebagai warga bisa menjadi diri sendiri sekalipun  hidup di dalam sebuah dunia yang makin menjadi sebuah “desa kecil”. Tapi justru untuk menghadapi kehidupan di planet yang kian menyusut menjadi “desa kecil” itu, maka perlu disepakati untuk menjadi diri sendiri, agar bisa memberikan  sumbangan bagi pembinaan kehidupan dunia manusia yang manusiawi melalui usaha-usaha nyata di kampung halaman sendiri.
 Keragaman inilah yang  menyebabkan terjadinya dialog dan mempunyai “bekal budaya” dan bekerja bagi budaya dunia. Karena keragaman merupakan sebuah keberuntungan dan keindahan. Dunia yang  menyusut menjadi “sebuah desa kecil” ini juga menuntut agar tidak berhenti dan memang tidak bisa berhenti pada usaha-usaha pelestarian semata. Pelestarian hanya sebuah langkah awal untuk memulihkan ingatan dan ayunan langkah  pertama guna melahirkan “budaya baru” kekinian yang tanggap zaman. Jika berhenti (dihentikan)  hanya pada usaha pelestarian sama halnya dengan memuja masa lalu dan tidak menutup kemungkinan akan ditinggalkan oleh waktu.

Revitalisasi Budaya Lokal
Yang dimaksud dengan revitalisasi budaya lokal adalah kegiatan yang memungkinkan budaya lokal itu mampu menjawab tantangan jaman, tantangan hidup hari ini dengan menjadikan gantang penakarnya memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Langkah ini merupakan tindak lanjut yang menyusul langkah pelestarian alias pendataan (pendaftaran) dan pengenalan hasil budaya angkatan-angkatan terdahulu guna melawan lupa dan memulihkan ingatan kolektif suatu komunitas masyarakat. Dengan demikian angkatan hari ini tidak menjadi angkatan  lepas akar atau angkatan kosong. Jika terhenti hanya sebatas pelestarian dan menganggap budaya lokal sebagai buah karya angkatan-angkatan sebelumnya, maka dihawatirkan komunitas masyarakat akan hidup menyeret diri mundur ke masa silam sehingga kian tergenang  di lumpur keterpurukan total. Dengan menganggap budaya silam itu yang paling sempurna dan berlaku di segala jaman.
Kenyataannya, karya-karya budaya masa silam tidak semuanya tanggap zaman dalam artian mempunyai daya guna  untuk memecahkan masalah-masalah kekinian. Karena itu ia patut ditepis mana yang tanggap dan mana yang sudah kedaluarsa. Yang kedaluarsa cukup catat saja menjadi sejarah, simpan di museum sebagai bandingan dan pelajaran, sebagai bagian dari sejarah dari mana kelak bisa melihat perkembangan diri sebagai suatu komunitas. Untuk menilai kedaluarsa tidaknya suatu hasil budaya, tentu yang jadi ukurannya adalah kemampuan nilainya menjawab tantangan hari ini.
Suatu penampilan bentuk sampai hakikat sehingga bisa menyebutnya tanggap atau tidak, tentu perlu perangkat yang seimbang, perlu analisis dan kajian tingkat relevansinya, sehingga nantinya dalam menentukan sikap budaya, tidak terperangkap sikap apriori. Contoh misal; falsafah (budaya): bapa’ babu’ guru rato dapat dipahami sebagai wilayah yang disakralkan, karena didalamnya banyak mengajarkan nilai etika dan estetika dalam perilaku kehidupan di masyarakat. Namun dalam satu sisi, ada pihak menyebutnya sebagai bentuk pengebirian, karena akan membatasi keleluasaan  melakukan tindakan dalam sebuah sistem di masyarakat. Demikian pula dengan falsafah abantal omba’, asapo’ angen; lebih bagus pote tolang, etembang pote mata, dan seterusnya, semua mempunyai nilai dan makna, namun tidak semua pula dapat diterapkan dalam kondisi masyarakat sekarang ini. Lalu apa gerangan yang terjadi dari fenomena tersebut?  Persoalannya sekarang, bagaimana dalam memilah sisi mana yang tanggap jaman, dan sisi mana pula sudah tidak patut lagi dikembangkan oleh masyarakat etnik Madura.
Nilai-nilai lokal tersebut dicari relevansinya dan diterapkan pada sarana baru kekinian. Perihal sarana inipun kiranya patut memperhatikan sarana yang sejak lama ada di dalam masyarakat, yaitu institusi masyarakat sebagai kekuatan masyarakat yang nantinya menjadi intrumen penggerak melalui kekuatan dasar piramida masyarakat. Dengan menggunakan (memanfaatkan) budaya lokal untuk menjawab tantangan kekinian dan keterpurukan, ini juga merupakan wujud kongkrit dari revitalisasi budaya lokal.

Komunitas Lokal Sebagai Aktor
Istilah pemberdayaan mungkin mengesankan bahwa komunitas Madura sekarang dalam keadaan tidak berdaya atau terpuruk. Istilah ini melukiskan keadaan yang negatif dan ada yang ingin diubah. Untuk mengubahnya, pertama dan terpenting adalah komunitas itu sendiri sebagai faktor intern pemberdayaan. Pemerintah, LSM baik didalam maupun dari luar atau siapapun tidak bisa menggantikan peranan komunitas itu sebagai aktor pemberdayaan dan kemudian pembangunan yang integral. Karena pemberdayaan dan kemudian pembangunan  yang bergulir bukanlah buah derma (hadiah). Jauh sebelumnya, kebiasaan masyarakat yang kemudian menjadi tradisi, semangat mandiri, berprakarsa, dan semangat gotong royong (song-osong lombung)  ini sangat kuat di kalangan masyarakat Madura. Membangun sebuah rumah, pemilik tidak repot lagi mencari tukang bangunan, material, dan bahkan suguhan, para tetangga dan kerabat keluarga tanpa pretensi apapun telah mempersiapkan segalanya. Demikian pula aktifitas-aktifitas lainnya, yang semuanya mengarah pada kekuatan dasar masyarakat, yang mandiri, yang madani.
Menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap hal tersebut salah satu metode melalui pendekatan budaya adalah untuk pemberdayaan manusia seutuhnya. Melalui dialog budaya dalam usaha pemberdayaan, yaitu bagaimana mengembalikan suku, etnik dan masyarakat Madura, kembali menjadi komunitas-komunitas lokal, menjadi diri sendiri dengan nilai-nilai yang luhur. Untuk itu, pendidikan pembebasan melalui proses penyadaran akan menjadi kunci dan bisa dilakukan melalui pemaduan usaha-usaha produktif guna menjawab persoalan hari-hari yang kongkrit, dengan tanpa melupakan, bahwa usaha produktif ini merupakan bagian integral dari proses penyadaran dan pembebasan diri komunitas dari jebakan-jebakan globalisasi budaya.
Penyadaran diri tidak cukup hanya dengan mempersoalkan dan memperbincangkan semata, tapi bagaimana membangun jati diri masyarakat dan mengaktulisasikan dalam realitas kehidupan nyata.  Sebab kenyataan yang  terjadi, fungsi dan peran masyarakat dalam artian membentuk kekuatan budaya telah  dieksploitasi oleh kecenderungan yang bersifat material, sementara budaya (daerah, lokal dan tradisional) yang lebih mengacu pada konsep kehidupan bersama, tenggang rasa dan gotong royong itu, hampir kehilangan maknanya. Bila fungsi tersebut lumpuh, apa yang diharapkan dari gerakan kekuatan masyarakat madani atau masyarakat  (ber) budaya, kecuali pada gilirannya, masyarakat Madura akan kehilangan budaya Maduranya. Atau dengan kata lain tentu tak seorangpun mau menyatakan diri sebagai  Malin Kundang.  Kecuali ……..